Naluri Jurnalis Saat Terjadi Bencana Alam

0
302

PASANGKAYU, – Jurnalsulbar.com || Jelang Magrib 28 September 2018 Gempa yang disertai Tsunami yang melanda Kabupaten Donggala, Sigi, Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, membuat semua orang panik hingga mengungsi kedataran tinggi, tak terkecuali Jurnalis.

Jelang petang itu gempa dengan kekuatan 7,4 SR mengguncang, hingga terasa ke Kabupaten Pasangkayu, Sulbar, “Saya bersama dengan warga lain berhamburan keluar rumah, dengan penuh rasa khawatir saya memeluk kedua anak saya di jalur 2 jln. Samratulangi kota pasangkayu karena panik, seketika aliran listrik padam, jaringan telfon seluler terputus bahkan untuk sekedar mengakses internet untuk mengetaui pusat gempa saat itu tak bisa dilakukan sehingga suasana mencekam seketika itu sangat terasa, setelah guncangan selesai naluri saya sebagai jurnalis pun muncul, dengan rasa was was, saya berlari masuk kedalam rumah dan mengambil kamera shoting untuk mengabadikan gambar kepanikan warga.

Singkat cerita, saya mulai mengambil gambar dibeberapa rumah warga yang rumahnya mengalami keretakan, saat itu kepanikan warga masih terlihat diraut wajah mereka, ditambah dengan suara gemuruh klakson kendaraan, sayapun keliling kota pasangkayu sambil mengemudikan mobil didampingi ke 2 anak saya sambil mengabadikan momen kepanikan warga, tiba – tiba warga kembali panik berhamburan sambil teriak, air air naik, ditambah lagi dengan suara klakson kendaraan yang saling bersahutan seakan berlomba di jalan – jalan utama kota pasangkayu, suara bising kendaraan dan teriakan panik dengan menyebut nama Allah di segala penjuru kota dimana saat itu jalan – jalan utama kota tiba – tiba macet, saya dengan kedua anak sayapun saat itu mulai panik, namun tetap konsentrasi mengambil gambar dari dalam mobil sambil menyetir.

Saya lihat warga kota pasangkayu saat itu panik dan lari mencari dataran tinggi dengan menggunakan kendaraan ruda 2, roda 4 bahkan sampai truk pun saat itu digunakan warga, rasa takut menghantui siapa saja saat itu, sayapun kembali kerumah mencari adik saya, namun ternyata dia sudah lebih duluan lari bersama dengan warga lainnya, tiba – tiba mulai ada rasa takut pada diri saya dengan itu saya bergegas mencari dataran tinggi. Namun, tepat dibundaran smart pasangkayu macetpun tak terhindarkan, saling serobot kendaraan disana terlihat, suara knalpot bogar bersahut sahutan, suara klakson saling menutupi satu dengan yang lain, membuat suasana semakin mencekam, apalagi suasana kota gelap gulita karena aliran listrik mati total, saya melihat kejadian langka ini pertama dikota pasangkayu yang macet segitu parah hingga beberapa jalur kendaraan, sayapun kemudian turun dari mobil mengabadikan momen tersebut, tiba – tiba  terdengar lagi suara teriakan air air laut naik, karena panik saat itu sudah berlebihan secara manusiawi saya kemudian membawa kedua anak saya kabur menggunakan mobil ke arah jembatan merah, namun karena disana juga macet, saya terpaksa berhenti disitu sambil berusaha mencari signal untuk mengirim berita, namun jaringan saat itu hilang total dan aliran listrik juga putus total, hingga menambah situasi dikota pasangkayu terlihat mencekam, beritapun gagal saya kirim saat itu.

Singkat cerita, dengan rasa was – was saya kembali kedalam kota yang sepi dan mencekam, saya dengan kedua anak saya duduk di trotoar sambil makan roti, karena saat itu kami belum makan, waktu sdh memunjukan pukul 23:00, namun rasa ketakutan tetap ada, lampu yang menyala hanya lampu penerangan jalan yang menggunakan tenaga surya, tiba – tiba anak sayapun mengaku ngantuk, kami berempat dengan adik saya masuk dalam rumah untuk tidur hingga pagi tiba, namun sepanjang malam mata ini tidak bisa tertutup, melihat kedua buah hati saya yang begitu kaget saat terjadi gempa.

Paginya saya kembali keliling mencari gambar menarik untuk saya kirim ke iNews TV, MNC Media Group, namun sayang jaringan internet pagi itu sangat susah diakses pasca gempa, saya kemudian keliling melanjutkan perjalanan menelusuri berbagai wilayah di kabupaten pasangkayu untuk mengabadikan dampak yang ditimbulkan gemoa, saya lihat ada bangunan pasar yang ambruk, tembok rutan ambruk, mesjid ambruk, gereja mengalami keretakan, rumah warga  ada yang miring dan bahkan ambruk, anehnya di randomayang pesisir pantai, tanah terbelah dan mengeluarkan lumpur, saat itu gempa dengan skala kecil masih terus terjadi, namun karena naluri jurnalis saya tak menghiraukan guncangan gempa tersebut.

Kira – kira jam 12 siang saya balik lagi kerumah namun tiba – tiba saya kembali panik karena melihat warga pasangkayu siang itu hampir semua ada digunung di desa ako, saya mulai meningkatkan laju mobil yang saya kemudikan karena anak dan adik saya saat itu ada dirumah, namun kepanikan saya bertambah ketika saya tiba dirumah anak dan adik saya hilanh, rumah terkunci, sementara kota pasangkayu sepi tak ada aktivitas, sebab warga semua mengungsi seketika saya langsung keliling kota pasangkayu mencari anak dan adik saya, pasangkayu saat itu bak kota mati ditinggal penghuninya, namun tiba – tiba anak dan adik saya muncul di tengah kesunyian kota, hati sayapun mulai tenang saat itu.

Saya kemudian langsung mengedit video kejadian yang saya liput saat itu, setelah saya edit berita kemudian saya kirim. Keesokan harinya saya harus meninggalkan anak saya masuk ke kota palu sulteng untuk liputan, selama 6 hari di kota palu liputan disanalah saya liat mayat tergeletak dan tertimbun reruntuhan bangunan hingga ada yang membusuk, bahkan untuk mengambil gambar dimedan yang extrim pasca gempa saya harus berjuang menerobos reruntuhan bangunan, bahkan lumpur sisa terjangan gelombang tsunami tak lagi jadi penghalang buat saya untu mendapatkan gambar, parahnya disaat bersamaan BBM, makan bahkan air minum saat itu  susah sekali  didapat dikota palu, namun namanya jurnalis saya harus bekerja demi sebuah informasi yang akurat agar kantor yang saat itu siaran live breaking news bisa menyampaikan informasi yang cepat, tepat dan akurat.

Singkat cerita setelah beberapa hari disana liputan, tibalah saya pada masa dimana hati saya terasa rapuh, karena saya juga adalah seorang ayah. Saat itu seorang perempuan yang saya wawancara di perumnas balaroa bercerita tentang ganasnya gempa hingga membuat tanah bergerak meluluhlantakkan bangunan dan menelan apa saja yang ada diatasnya tanpa terkecuali manusia yang terkubur hidup – hidup akibat pergeseran tanah.

Dari situ sayapun bergeser liputan ke wilayah petobo, disana ada seorang Ibu yang terus menerus menangis memanggil nama anaknya, tak terasa air mata saya ikut menetes melihat Ibu itu yang seakan tak kuasa menahan kesedihannya, namun dia balik berbicara ini kuasa Tuhan tidak bisa kita lawan, kita yang hidup masih di berikan kesempatan untuk bertobat kata ibu itu dengan meneteskan air matanya.

Banyak hal yang saya lihat di tengah duka yang melanda warga donggala, sigi dan kota palu, namun saya pribadi tidak bisa berbuat banyak, saya hanya bisa fokus liputan sebagai jurnalis agar informasi sampai ke pemerintah dengan tujuan agar warga terdampak gempa mendapat bantuan yang layak dari semua pihak.

Walau saat itu kami dengan tim basarnas tidur dilapangan terbuka di halaman kantor basarnas kota palu tepatnya dijalan elang. Saat malam tiba ketika gempa kembali mengguncang dengan skala kecil kami spontan bangun dan berlarian, kondisi itu tak bisa saya lupakan sampai saat ini karena selain panik kelucuan kadang muncul melihat tim basarnas dan jurnalis yang ada disitu berhamburan bahkan tidak sedikit yang keinjak dan terjatuh hingga mengundang gelak tawa ketika usai berhamburan.

Empat hari di kota palu, saya bersyukur karena bisa ngopi dan bersenda gurau dengan tim basarnas, walau letih lesu terlihat diraut wajah mereka, namun tak ada keluhan yang muncul, sehingga memacu adrenaline saya tetap semangat liputan hingga saya kembali berkumpul dengan anak saya di kota pasangkayu.

Kisah Naluri jurnalis iNews TV (MNC Media Group)  Joni Banne Tonapa. Saat Terjadi Gempa yang melanda donggala, sigi dan palu sulteng.

LEAVE A REPLY