Jelang Pilpres Politik di Pasangkayu Memanas, Oknum Petugas PPS Dilapor ke Bawaslu Karena Diduga Bagi – Bagi Rastra Yang Diberi Stiker Partai

0
570

PASANGKAYU, – Jurnalsulbar.com || Jelang Pilpres yang akan digelar april mendatang, di Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat politik mulai memanas. Setelah pelaporan APK Capres 01 di rusak orang tak dikenal, kini giliran petugas PPS dilaporkan warga ke kantor bawaslu karena diduga membagi – bagikan rastra dengan menyertakan stiker berlebel caleg dari Partai PDI Perjuangan.

Dengan menenteng karung berisi beras rastra yang ditempeli stiker salah satu caleg dari partai pdi perjuangan, partai pengusung Calon Presiden Pasangan Jokowi Dodo dan Ma’ruf Amin. Dewi bersama suaminya di dampingi Abdul Kadir salah seorang pemuda dari Desa Randomayang melaporkan petugas PPS ke kantor bawaslu karena diduga terlibat dalam pembagian beras rastra yang diberi label caleg.

Oknum petugas pps yang juga diketahui adalah anak dari kepala dusun salungalugu 1 desa randomayang ini dilaporkan abdul kadir ke kantor bawaslu, karena dituding melakukan pemaksaan untuk memilih oknum caleg bernama Lukman Said yang saat ini mejabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Pasangkayu dengan menyertakan stiker saat membagikan rastra.

Syamsuddin SH. Devisi HPP dan Sengketa Bawaslu Kabupaten Pasangkayu sesaat setelah menerima laporan warga mengatakan, “Pelaporan tersebut telah diregistrasi dan telah melalui pembahasan pertama untuk menentukan apakah ketentuan syarat formil dan materil sebuah laporan untuk di bahas di bawaslu dan bahkan ditingkat gakumdu dimana didalamnya ada pihak kepolisian dan kejaksaan sudah memenuhi unsur. Terang Syamsuddin.

Lebih lanjut Syamsuddin mengatakan, “Bawaslu sesuai dengan peraturan pengawas pemilu UU NO 7 Tahun 2018 tentang penanganan temuan dan laporan pelanggaran pemilu saat ini telah melakukan pemanggilan terhadap para pihak terlapor dan pelapor untuk dimintai klarifikasi.

Sementara petugas pps yang dilaporkan atas pembagian rastra yang di beri stiker salah satu caleg menurut syamsuddin akan di cek dan dipastikan apakah ada pasal yang bisa menjerat staf sekretariat pps atau pps, bawaslu sampai hari ini masih melakukan penyelidikan apakah yang bersangkutan petugas pps atau staf pps. Tutup Syamsuddin.

Menurut Abdul Kadir. pendamping pelapor mengungkapkan, bahwa Jawas suami dari Dewi mengatakan pembagian rastra dari oknum petugas pps disertai pemasangan stiker”, “Sehinga kami melakukan pengecekan langsung ke rumah dewi dan ternyata betul ada stiker yang menempel di beras rastra yang dibagikan oleh pemerintah, dari situ kami menilai ini adalah sebuah pelanggaran berat karena yang membagikan adalah petugas pps maka kami laporkan ke panwas kecamatan serta bawaslu kabupaten. Tegas Kadir.

Diditemui dikediamannya, Asriani Staf Sekretariat PPS yang dituding melakukan pembagian rastra bantuan pemerintah yang di beri stiker oknum salah satu caleg dari partai pdi perjuangan membantah semua tuduhan yang ditujukan pada dirinya, bahkan dia kembali menuding pelapor berbohong atas laporannya”.

“Tidak ada stiker ditempelkan pada beras, jangankan ditempel mengambil beras saja dilakukan sendiri oleh warga karena mereka tau itu adalah hak mereka karena sudah ketiga kalinya mereka menerima bantuan dari pemerintah. Menurutnya, stiker diambil sendiri oleh warga yang saat itu tepat berada diatas sebuah spiker yang ada di dalam rumah pribadinya. Tutur Asriani.

Tak hanya itu, Asriani bahkan menuding dewi warga yang melaporkan dirinya ke bawaslu adalah nenek dari abdul kadir dan bahkan, dengan nada lantang asriani mengatakan, “Abdul kadir yang mendampingi warga melapor ke bawaslu adalah saudara dari oknum salah satu caleg dari Partai PKB  yang ada di dapil ini. Tutup Asriani dengan nada tinggi.

Fatimah. salah satu dari sekian penerima rastra didusun salunggalugu 1 mengaku heran dengan adanya informasi rastra di beri lebel stiker salah satu caleg, “Pengambilan rastra di rumah asriani diambil sendiri, namun disaat yang bersamaan ada stiker di atas sebuah spiker sehingga kami ambil sendiri tanpa ada perintah dari asriani. Tutur Fatimah dengan nada heran. (Joni/JS)

LEAVE A REPLY