Mamuju, Jurnalsulbar.com — Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat dr. Nursyamsi Rahim menegaskan pentingnya penguatan kualitas data gizi sebagai dasar utama dalam pengambilan kebijakan kesehatan.
Penegasan itu disampaikan dr. Nursyamsi Rahim dalam kegiatan Pertemuan Penilaian Kualitas Data Rutin dan Pemanfaatan Data bagi Pengelola Program Gizi Kabupaten dan Puskesmas Angkatan II, yang dilaksanakan di Grand Maleo Hotel & Convention, Mamuju, pada 16–19 April 2026.
Kegiatan ini sejalan dengan misi ke-3 Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka, yakni membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.
Dalam arahannya, dr. Nursyamsi Rahim menekankan bahwa data yang akurat menjadi kunci keberhasilan intervensi program gizi, khususnya dalam menekan angka stunting. Ia menegaskan, standar layanan balita berisiko stunting dari Posyandu hingga Puskesmas harus ditangani secara optimal.
“Tanpa data yang valid, intervensi tidak akan tepat sasaran,” tegasnya.
Berdasarkan data per 31 Desember 2025, capaian indikator layanan gizi ibu hamil masih berada di bawah target, di antaranya konsumsi makanan tambahan bagi ibu hamil KEK 56,21 persen (target 83 persen), K1 murni 55,75 persen (target 88 persen), serta kunjungan antenatal minimal enam kali 48,57 persen (target 80 persen). Layanan 12T tercatat 41,16 persen (target 80 persen), dan konsumsi tablet tambah darah 36,14 persen (target 48 persen).
Pertemuan ini juga menekankan pentingnya peningkatan indikator D/S, yaitu perbandingan jumlah balita yang datang dan ditimbang di Posyandu dengan total balita di wilayah kerja. Indikator ini menjadi tolok ukur penting dalam memastikan pemantauan tumbuh kembang balita berjalan optimal.
Melalui kegiatan ini, DKPPKB Sulbar menargetkan peningkatan kualitas data yang lengkap, tepat waktu, konsisten, dan akurat, serta penguatan kapasitas petugas dalam analisis dan pemanfaatan data. Selain itu, disusun rencana tindak lanjut (RTL), penguatan monitoring dan evaluasi, serta peningkatan penggunaan aplikasi digital guna mendukung intervensi yang lebih tepat sasaran dalam penanganan stunting, wasting, dan underweight. (Rls)






