Mamuju, Jurnalsulbar.com — Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Sulawesi Barat (KPw BI Sulbar) menggelar diseminasi ekonomi dalam tajuk “Sipakada Media” yang digelar di mamuju, jumat (8/5/2026).
Mengangkat tema sinergi dan kolaborasi bersama Media dalam rangka diseminasi perekonomian terkini, ajang tersebut menjadi wadah berbagi informasi terkait hal-hal yang ada di Sulawesi Barat.
Hadir langsung membuka kegiatan Kepala KPw BI Sulbar, Eka Putra Budi Nugroho dan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Erdi Fiat Gumilang. Dalam pemaparannya menyinggung perkembangan indikator makro ekonomi utama di Sulawesi Barat, yang mencakup pertumbuhan ekonomi melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta dinamika inflasi daerah.
Perekonomian Sulawesi Barat secara historis menunjukkan tingkat resiliensi yang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi daerah dinilai tetap stabil, ditopang oleh pemulihan aktivitas domestik dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar dalam struktur ekonomi Sulbar. Komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kakao, dan perikanan tangkap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain itu, industri pengolahan, khususnya Crude Palm Oil (CPO), turut memberikan kontribusi signifikan, meski sangat bergantung pada permintaan ekspor dan fluktuasi harga komoditas global. Sektor perdagangan besar dan eceran juga terus tumbuh seiring meningkatnya daya beli masyarakat.
Di sisi lain, perkembangan inflasi di Sulawesi Barat masih menjadi perhatian serius. Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas harga.
Erdi menyebutkan, inflasi di Sulbar umumnya dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Beberapa komoditas seperti beras, cabai rawit, bawang merah, dan ikan segar menjadi penyumbang utama inflasi karena rentan terhadap faktor cuaca dan gangguan distribusi.
Selain itu, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif angkutan udara juga memberikan tekanan terhadap laju inflasi tahunan.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi Sulbar, di antaranya investasi melalui pembangunan infrastruktur strategis nasional yang meningkatkan konektivitas antarwilayah, serta tingginya harga komoditas global yang mendukung kinerja ekspor daerah.
Namun, tantangan tetap ada. Fenomena cuaca ekstrem seperti El Nino maupun curah hujan tinggi berpotensi mengganggu produktivitas sektor pertanian. Ditambah lagi, ketergantungan pasokan bahan pokok dari luar provinsi, seperti Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, membuat biaya distribusi menjadi faktor penting dalam pembentukan harga.
Ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Sulawesi Barat tetap tumbuh positif, meski dibayangi ketidakpastian ekonomi global.
Erdi menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), mendorong hilirisasi komoditas unggulan seperti kakao dan sawit, serta mempercepat digitalisasi ekonomi melalui perluasan penggunaan QRIS dan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah.
“Penguatan sektor riil dan digitalisasi ekonomi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat ke depan,” ujarnya.






